Layanan
Terapis wicara adalah bentuk layanan yang bertujuan untuk memulihkan
dan mengupayakan kompensasi/adaptasi fungsi komunikasi, bicara dan
menelan dengan melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi
(fisik, elektroterapi dan mekanis). Sarana elektroterapi yang ada antara
lain vital stim untuk melatih otot2 menelan, misalnya pada pasien pasca
stroke.
Untuk di medan sendiri terdapat beberapa tempat untuk pelayanan terapi wicara diantaranya:
1. RSU ESTOMIHI MEDAN
2. RSU Adam Malik
3. RSU Pringadi
Untuk yang melayani ada bebearapa orang terapis.
1. Rismawati Simanjuntak HP : 081396490725
2. Jalu Tambunan
3. Diana
Layanan Terapis wicara adalah bentuk layanan yang bertujuan untuk memulihkan dan mengupayakan kompensasi/adaptasi fungsi komunikasi, bicara dan menelan dengan melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi (fisik, elektroterapi dan mekanis). Sarana elektroterapi yang ada antara lain vital stim untuk melatih otot2 menelan, misalnya pada pasien pasca stroke. Contact Person. Rismawati Simanjuntak 081 396 490 725/ 0852 9619 1907
Tampilkan postingan dengan label mengenali autis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenali autis. Tampilkan semua postingan
Senin, 12 November 2012
PELAYANAN TERAPI WICARA MEDAN
Selasa, 06 November 2012
PELAYANAN TERAPI WICARA
1. Apa Itu Pelayanan Terapi Wicara
Ø Pelayanan Terapi Wicara, adalah
pelayanan kesehatan professional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dalam
bidang perilaku komunikasi untuk meningkatkan dan memulihkan kemampuan perilaku
komunikasi, yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan, bahasa, wicara, suara,
dan irama/kelancaran, yang diakibatkan oleh adanya ganguan gangguan/kelainan
anotomosis, fisiologi, psikologis, dan sosiologis.
2. Tugas Pokok
Terapis Wicara
Ø Tugas pokok Terapis Wicara, adalah
melaksanakan pelayanan terapi wicara demi tercapainya kemampuan komunikasi yang
optimal, baik dalam aspek bahasa, wicara, suara, irama kelancaran hingga mampu
berkomunikasi secara wajar dan tidak mengalami gangguan gangguan psikososial
dalam menjalankan fungsinya sebagai individu, maupun sebagai individu maupun
sebagai anggota masyarakat.
3. Ruang
Lingkup Pelayanan Terapi Wicara
a. Ruang
lingkup pelayanan terapi wicara dilihat dari sifat pelayanannya meliputi
Ø Promotif
Ø Preventif
Ø Kuratif
Ø Rehbilitatif
b. Aspek
komunikasi dan menelan meliputi
Ø Aspek wicara
Ø Aspek bahasa
Ø Aspek suara
Ø Aspek irama dan kelancaran
Ø Aspek menghisap, mengunyah, dan menelan
c. Dilihat
dari institusi kerja yang Menggunakan tenaga terapi wicara:
·
Rumah Sakit
|
·
Klinik-Klinik
|
·
Sekolah luar biasa/khusus
|
·
Sekolah Dasar
|
4. Bagaimana
Cara Kerja Terapis Wicara?
a.
Pemeriksaan
dan Penilaian
Ø Penilaian perkembangan kemampuan
bahasa bicara
Ø Pemeriksaan dan penilaian kemampuan
bahasa.
Ø Pemeriksaan dan penilaian anatomi
dan fisiologi organ bicara dan pendengaran.
Ø Pemeriksaan dan penilaian kemampuan
respirasi untuk kebutuhan bicara.
Ø Pemeriksaan dan penilaian kemampuan
artikulasi
Ø Pemeriksaan dan penilaian irama
kelancaran
Ø Pemeriksaan dan penilaian kemampuan
menghisap, mengunyah, dan menelan.
b. Penetapan diagnosis
terapi wicara dan prognosis, istilah diagnosa dalam terapi wicara.
·
Afasia
|
·
Disglosia
|
·
Disartria
|
·
Dislalia
|
·
Disaudia
|
·
Disfonia
|
·
Dislogia
|
·
Gagap
|
c.
Penyusunan
program/rencana
d. Terapi tindakan
Menggunakan
metode yang sesuai dengan waktu terapi berkisar 30-60 menit
e. Evaluasi
Anda membutuhkan pelayanan Terapi Wicara hubungi kami
Label:
anak autis,
autis,
autisme,
gejala autis,
KONSELING,
medan,
mengenali autis,
non tunarungu,
obat autis,
rungu,
speech,
speech terapy,
terapi,
terapi wicara,
terapi wicara medan,
terapy,
tuna,
wicara
Selasa, 01 November 2011
Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu
Keywords: terapi mendengar / terapi dengar, auditory verbal therapy / terapi auditori verbal, auditory oral therapy, AVT / TAV, terapi wicara, implan koklea / cochlea implant, alat bantu dengar / ABD, komunikasi, tunarungu
Banyak
yang mau ditulis, tapi masih repot sama si baby. Tapi kemarin harus
nulis buat pihak sekolah si kakak, jelasin beberapa hal. Ini menyangkut
komunikasi si kakak, Ellen (6 tahun), yang tuna rungu tapi kami masukkan
sekolah umum. Sekaligus berbagi informasi di sini, kalau-kalau berguna.
Tulisan terkait akan menyusul (silakan lihat di Recent Posts).
Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)
1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.
2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata,
karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu
dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya
sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti,
bantuan visual dihilangkan.
3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. John Tracy Clinic
menuliskan: untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100
kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak
Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke
telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan
kata-kata baru).
4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya.
Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada
jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang
ditangkap hanya vokal saja.
5. Kami
telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan
hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif
(paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir,
tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul
kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…
6. Kendala
yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah
atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di
suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan
teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen
tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit
karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola
ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).
Catatan:
- Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
- Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal. (by: mama Ellen, edited by papa Ellen)
- Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
- Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal. (by: mama Ellen, edited by papa Ellen)
Label:
ABD,
alat,
anak autis,
autis,
KONSELING,
medan,
mengenali autis,
non tunarungu,
obat autis,
terapi,
terapi wicara,
terapi wicara medan,
terapy,
tuna rungu,
wicara
Alat-Alat Terapi Wicara
DAFTAR ALAT
TERAPI WICARA
No
|
Barang
|
Harga
|
1.
|
Kartu Suku Kata
|
Unknown
|
2.
|
Gambar Warna-warna
|
Unknown
|
3.
|
Lawan Kata
|
Unknown
|
4.
|
Johnson’s baby oil
|
Unknown
|
5.
|
Gambar buah/huruf
|
Unknown
|
6.
|
Kelereng & botol aqua 100 biji
|
Unknown
|
7.
|
Super buble
|
Unknown
|
8.
|
Tang Spatel
|
Unknown
|
9.
|
Potong Buah
|
Unknown
|
10.
|
Tisyu
|
Unknown
|
11.
|
Alkohol
|
Unknown |
12.
|
Sikat gigi oral motor (untuk pasien stroke&anak)
|
Unknown
|
13.
|
Brushing/Sikat Brushing
|
Unknown
|
14.
|
Kursi & Meja
|
Unknown
|
15.
|
Kaca
|
Unknown
|
16.
|
Almari tempat alat terapi
|
Unknown
|
17.
|
Lilin & Korek Api
|
Unknown
|
18.
|
Antiseptic pembersih tangan
|
Unknown
|
By : Rismawati Simanjuntak, Amd.Tw
Label:
anak autis,
autis,
autisme,
brosur,
gejala autis,
KONSELING,
medan,
mengenali autis,
non tunarungu,
obat autis,
rungu,
speech,
speech terapy,
terapi,
terapi wicara,
terapi wicara medan,
terapy,
tuna,
tuna rungu,
wicara
Langganan:
Postingan (Atom)