Tampilkan postingan dengan label mengenali autis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mengenali autis. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 November 2012

PELAYANAN TERAPI WICARA MEDAN

Layanan Terapis wicara adalah bentuk layanan yang bertujuan untuk memulihkan dan mengupayakan kompensasi/adaptasi fungsi komunikasi, bicara dan menelan dengan melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi (fisik, elektroterapi dan mekanis). Sarana elektroterapi yang ada antara lain vital stim untuk melatih otot2 menelan, misalnya pada pasien pasca stroke.   

Untuk di medan sendiri terdapat beberapa tempat untuk pelayanan terapi wicara diantaranya:
1. RSU ESTOMIHI MEDAN
2. RSU Adam Malik
3. RSU Pringadi

Untuk yang melayani ada bebearapa orang terapis.
1. Rismawati Simanjuntak HP : 081396490725
2. Jalu Tambunan
3. Diana


Selasa, 06 November 2012

PELAYANAN TERAPI WICARA






1.       Apa Itu Pelayanan Terapi Wicara
Ø Pelayanan Terapi Wicara, adalah pelayanan kesehatan professional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dalam bidang perilaku komunikasi untuk meningkatkan dan memulihkan kemampuan perilaku komunikasi, yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan, bahasa, wicara, suara, dan irama/kelancaran, yang diakibatkan oleh adanya ganguan gangguan/kelainan anotomosis, fisiologi, psikologis, dan sosiologis.
2.      Tugas Pokok Terapis Wicara
Ø Tugas pokok Terapis Wicara, adalah melaksanakan pelayanan terapi wicara demi tercapainya kemampuan komunikasi yang optimal, baik dalam aspek bahasa, wicara, suara, irama kelancaran hingga mampu berkomunikasi secara wajar dan tidak mengalami gangguan gangguan psikososial dalam menjalankan fungsinya sebagai individu, maupun sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
3.      Ruang Lingkup Pelayanan Terapi Wicara
a.      Ruang lingkup pelayanan terapi wicara dilihat dari sifat pelayanannya meliputi
Ø  Promotif
Ø  Preventif
Ø  Kuratif
Ø  Rehbilitatif
b.      Aspek komunikasi dan menelan meliputi
Ø  Aspek wicara
Ø  Aspek bahasa
Ø  Aspek suara
Ø  Aspek irama dan kelancaran
Ø  Aspek menghisap, mengunyah, dan menelan
c.       Dilihat dari institusi kerja yang Menggunakan tenaga terapi wicara:
·         Rumah Sakit
·         Klinik-Klinik
·         Sekolah luar biasa/khusus
·         Sekolah Dasar
4.      Bagaimana Cara Kerja Terapis Wicara?
a.      Pemeriksaan dan Penilaian
Ø  Penilaian perkembangan kemampuan bahasa bicara
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan bahasa.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian anatomi dan fisiologi organ bicara dan pendengaran.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan respirasi untuk kebutuhan bicara.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan artikulasi
Ø  Pemeriksaan dan penilaian irama kelancaran
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan menghisap, mengunyah, dan menelan.
b.      Penetapan diagnosis terapi wicara dan prognosis, istilah diagnosa dalam terapi wicara.
·         Afasia
·         Disglosia
·         Disartria
·         Dislalia
·         Disaudia
·         Disfonia
·         Dislogia
·         Gagap
c.       Penyusunan program/rencana
d.      Terapi tindakan
Menggunakan metode yang sesuai dengan waktu terapi berkisar 30-60 menit
e.      Evaluasi
Anda membutuhkan pelayanan Terapi Wicara hubungi kami







Selasa, 01 November 2011

Terapi Terpadu untuk Anak Tuna Rungu

Keywords: terapi mendengar / terapi dengar, auditory verbal therapy / terapi auditori verbal, auditory oral therapy, AVT / TAV, terapi wicara, implan koklea / cochlea implant, alat bantu dengar / ABD, komunikasi, tunarungu
Banyak yang mau ditulis, tapi masih repot sama si baby. Tapi kemarin harus nulis buat pihak sekolah si kakak, jelasin beberapa hal. Ini menyangkut komunikasi si kakak, Ellen (6 tahun), yang tuna rungu tapi kami masukkan sekolah umum. Sekaligus berbagi informasi di sini, kalau-kalau berguna. Tulisan terkait akan menyusul (silakan lihat di Recent Posts).
Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)
1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.
2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata, karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti, bantuan visual dihilangkan.
3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. John Tracy Clinic menuliskan: untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100 kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan kata-kata baru).
4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya. Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang ditangkap hanya vokal saja.
5. Kami telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif (paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir, tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…
6. Kendala yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).
Catatan:
- Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
- Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal. (by: mama Ellen, edited by papa Ellen)

Alat-Alat Terapi Wicara


DAFTAR ALAT TERAPI WICARA
No
Barang
Harga
1.
Kartu Suku Kata
 Unknown
2.
Gambar Warna-warna
 Unknown
3.
Lawan Kata
 Unknown
4.
Johnson’s baby oil
 Unknown
5.
Gambar buah/huruf
 Unknown
6.
Kelereng & botol aqua 100 biji
 Unknown
7.
Super buble
 Unknown
8.
Tang Spatel
 Unknown
9.
Potong Buah
 Unknown
10.
Tisyu
 Unknown
11.
Alkohol
Unknown
12.
Sikat gigi oral motor (untuk pasien stroke&anak)
 Unknown
13.
Brushing/Sikat Brushing
 Unknown
14.
Kursi & Meja
 Unknown
15.
Kaca
 Unknown
16.
Almari tempat alat terapi
 Unknown
17.
Lilin & Korek Api
 Unknown
18.
Antiseptic pembersih tangan
 Unknown
By : Rismawati Simanjuntak, Amd.Tw