Tampilkan postingan dengan label autisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label autisme. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 Februari 2015

AUTISME

AUTISME

INFORMASI MENGENAI AUTISME DAN PENDIDIKANNYA 

PERISTILAHAN

Autism = autisme yaitu nama gangguan perkembangan komunikasi, sosial, prilaku pada anak (Leo Kanner & Asperger, 1943).
Autist = autis : Anak yang mengalami ganguan autisme.
Autistic child = anak autistik : Keadaan anak yang mengalami gangguan autisme.

APA AUTISME ITU?

Secara harfiah autisme berasal dari kata autos =diri dan isme= paham/aliran.
American Psych: autisme adalah ganguan perkembangan yang terjadi pada anak yang mengalami kondisi menutup diri. Gangguan ini mengakibatkan anak mengalami keterbatasan dari segi komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku “Sumber dari Pedoman Pelayanan Pendidikan Bagi Anak Austistik”. (American Psychiatic Association 2000)
Autisme merupakan salah satu gangguan perkembangan fungsi otak yang bersifat pervasive (inco) yaitu meliputi gangguan kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi, dan gangguan interaksi sosial (Mardiyatmi ‘ 2000).

Gangguan autisme terjadi pada masa perkembangan sebelum usia 36 bulan “Sumber dari Pedoman Penggolongan Diagnotik Gangguan Jiwa” (PPDGJ III)
Autisme dapat terjadi pada anak, tanpa perbedaan ras, etnik, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan.

Privalensi Autisme diperkirakan 1 per 150 kelahiran. Menurut penelitian di RSCM selama tahun 2000 tercatat jumlah pasien baru Autisme sebanyak 103 kasus. Dari privalensi tersebut diperkirakan anak laki-laki autistik lebih banyak dibanding perempuan (4:1).

APA TANDA-TANDA ANAK AUTISTIK?

Anak autistik menunjukkan gangguan–gangguan dalam aspek-aspek berikut ini: (sering dapat diamati sehari-hari)

Bagaimana Anak Austistik berkomunikasi?

-Sebagian tidak berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal.
-Tidak mampu mengekpresikan perasaan maupun keinginan
-Sukar memahami kata-kata bahasa orang lain dan sebaliknya kata-kata/bahasa mereka sukar dipahami maknanya..
-Berbicara sangat lambat, monoton, atau tidak berbicara sama sekali.
-Kadang-kadang mengeluarkan suara-suara aneh.
-Berbicara tetapi bukan untuk berkomunikasi.
-Suka bergumam.
-Dapat menghafal kata-kata atau nyanyian tanpa memahami arti dan konteksnya.
-Perkembangan bahasa sangat lambat bahkan sering tidak tampak.
-Komunikasi terkadang dilakukan dengan cara menarik-narik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginannya.

Bagaimana anak austistik bergaul? 
-Tidak ada kontak mata
-Menyembunyikan wajah
-Menghindar bertemu dengan orang lain
-Menundukkan kepala
-Membuang muka
-Hanya mau bersama dengan ibu/keluarganya
-Acuh tak acuh, interaksi satu arah.
-Kurang tanggap isyarat sosial.
-Lebih suka menyendiri.
-Tidak tertarik untuk bersama teman.
-Tidak tanggap / empati terhadap reaksi orang lain atas perbuatan sendiri.

Bagaimana anak autistik membawakan diri ? -Menarik diri
-Seolah-olah tidak mendengar (acuk tak acuh/tambeng)
-Dapat melakukan perintah tanpa respon bicara
-Asik berbaring atau bermain sendiri selama berjam-jam.
-Lebih senang menyendiri. .
-Hidup dalam alam khayal (bengong)
-Konsentrasi kosong
-Menggigit-gigit benda
-Menyakiti diri sendiri
-Sering tidak diduga-duga memukul teman.
-Menyenangi hanya satu/terbatas jenis benda mainan
-Sering menangis/tertawa tanpa alasan
-Bermasalah tidur/tertawa di malam hari
-Memukul-mukul benda (meja, kursi)
-Melakukan sesuatu berulang-ulang (menggerak-gerakkan tangan, mengangguk-angguk dsb).
-Kurang tertarik pada perubahan dari rutinitas

Bagaimana kepekaan sensori integratifnya anak autistik ?

-Sangat sensitif terhadap sentuhan ,seperti tidak suka dipeluk.
-Sensitif terhadap suara-suara tertentu
-Senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
-Sangat sensitif atau sebaliknya, tidak sensitif terhadap rasa sakit.

Bagaimana Pola Bermain autistik anak?

-Tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya.
-Kurang/tidak kreatif dan imajinatif
-Tidak bermain sesuai fungsi mainan
-Menyenangi benda-benda berputar, sperti kipas angin roda sepeda, dan lain-lain.
-Sering terpaku pada benda-benda tertentu
-Sering marah tanpa alasan.
-Sering mengamuk tak terkendali (temper tantrum )bila keinginan tidak dipenuhi.
-Tiba-tiba tertawa terbahak-bahak atau menangis tanpa alasan
-Kadang-kadang menyerang orang lain tanpa diduga-duga.

Bagaimana kondisi kognitif anak autistik?

Menurut Penelitian di Virginia University di Amerika Serikat diperkirakan 75 – 80 % penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata/retardasi mental, sedangkan 20 % sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normal ataupun di atas normal untuk bidang-bidang tertentu.
Sebagian kecil mempunyai daya ingat yang sangat kuat terutama yang berkaitan denga obyek visual (gambar)
Sebagian kecil memiliki kemampuan lebih pada bidang yang berkaitan dengan angka.

APA PENYEBAB AUTISME?

Sampai sekarang belum terdeteksi faktor yang menjadi penyebab tunggal timbulnya gangguan autisme. Namun demikian ada beberapa faktor yang di mungkinkan dapat menjadi penyebab timbulnya autisme. berikut:

1. Menurut Teori Psikososial
Beberapa ahli (Kanner dan Bruno Bettelhem) autisme dianggap sebagai akibat hubungan yang dingin, tidak akrab antara orang tua (ibu) dan anak. Demikian juga dikatakan, orang tua/pengasuh yang emosional, kaku, obsesif, tidak hangat bahkan dingin dapat menyebabkan anak asuhnya menjadi autistik.

2. Teori Biologis
Faktor genetic: Keluarga yang terdapat anak autistik memiliki resiko lebih tinggi dibanding populasi keluarga normal.
Pranatal, Natal dan Post Natal yaitu: Pendarahan pada kehamilan awal, obat-obatan, tangis bayi terlambat, gangguan pernapasan, anemia.
Neuro anatomi yaitu: Gangguan/disfungsi pada sel-sel otak selama dalam kandugan yang mungkin disebabkan terjadinya gangguan oksigenasi, perdarahan, atau infeksi.
Struktur dan Biokimiawi yaitu: Kelainan pada cerebellum dengan cel-sel Purkinje yang jumlahnya terlalu sedikit, padahal sel-sel purkinje mempunyai kandungan serotinin yang tinggi. Demikian juga kemungkinan tingginya kandungan dapomin atau opioid dalam darah.

3. Keracunan logam berat misalnya terjadi pada anak yang tinggal dekat tambanga batu bara, dlsb.

4. Gangguan pencernaan, pendengaran dan penglihatan. Menurut data yang ada 60 % anak autistik mempunyai sistem pencernaan kurang sempurna. Dan kemungkinan timbulnya gejala autistik karena adanya gangguan dalam pendengaran dan penglihatan.

II. APA YANG PERLU KITA LAKUKAN TERHADAP ANAK AUTISTIK USIA DINI?

Sebelum/sembari mengikuti pendidikan formal (sekolah). Anak autistik dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak antara lain:

Terapi Wicara: Untuk melancarkan otot-otot mulut agar dapat berbicara lebih baik.

Terapi Okupasi : untuk melatih motorik halus anak.

Terapi Bermain : untuk melatih mengajarkan anak melalui belajar sambil bermain.

Terapi medikamentosa/obat-obatan (drug therapy) : untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang.

Terapi melalui makan (diet therapy) : untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autisme.

Sensory Integration therapy : untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis (pendengaran, penglihatan, perabaan)

Auditory Integration Therapy : untuk melatih kepekaan pendengaran anak lebih sempurna

Biomedical treatment/therapy : untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak (dari keracunan logam berat, efek casomorphine dan gliadorphine, allergen, dsb)

Hydro Therapy : membantu anak autistik untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas di air.

Terapi Musik : untuk melatih auditori anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi.

III. Ada Beberapa Pendekatan Pembelajaran Anak Autistik Antara Lain

Discrete Tial Training (DTT) : Training ini didasarkan pada Teori Lovaas yang mempergunakan pembelajaran perilaku. Dalam pembelajarannya digunakan stimulus respon atau yang dikenal dengan orperand conditioning. Dalam prakteknya guru memberikan stimulus pada anak agar anak memberi respon. Apabila perilaku anak itu baik, guru memberikan reinforcement (penguatan). Sebaliknya perilaku anak yang buruk dihilangkan melalui time out/ hukuman/kata “tidak”

Intervensi LEAP (Learning Experience and Alternative Programfor Preschoolers and Parents) menggunakan stimulus respon (sama dengan DTT) tetapi anak langsung berada dalam lingkungan sosial (dengan teman-teman). Anak auitistik belajar berperilaku melalui pengamatan perilaku orang lain.
Floor Time merupakan teknik pembelajaran melalui kegiatan intervensi interaktif. Interaksi anak dalam hubungan dan pola keluarga merupakan kondisi penting dalam menstimulasi perkembangan dan pertumbuhan kemampuan anak dari segi kumunikasi, sosial, dan perilaku anak.

TEACCH (Treatment and Education for Autistic Childrent and Related Communication Handicaps) merupakan pembelajaran bagi anak dengan memperhatikan seluruh aspek layanan untuk pengembangan komunikasi anak. Pelayanan diprogramkan dari segi diagnosa, terapi/treatment, konsultasi, kerjasama, dan layanan lain yang dibutuhkan baik oleh anak maupun orangtua.

IV. BAGAIMANA MODEL PELAYANAN PENDIDIKAN

Pendidikan untuk anak autistik usia sekolah bisa dilakukan di berbagai penempatan. Berbagai model antara lain:

1. Kelas transisi
Kelas ini diperuntukkan bagi anak autistik yang telah diterapi memerlukan layanan khusus termasuk anak autistik yang telah diterapi secara terpadu atau struktur. Kelas transisi sedapat mungkin berada di sekolah reguler, sehingga pada saat tertentu anak dapat bersosialisasi dengan anak lain. Kelas transisi merupakan kelas persiapan dan pengenalan pengajaran dengan acuan kurikulum SD dengan dimodifikasi sesuai kebutuhan anak.

2. Program Pendidikan Inklusi
Program ini dilaksanakan oleh sekolah reguler yang sudah siap memberikan layanan bagi anak autistik. Untuk dapat membuka program ini sekolah harus memenuhi persyaratan antara lain:
Guru terkait telah siap menerima anak autistik
Tersedia ruang khusus (resourse room) untuk penanganan individual
Tersedia guru pembimbing khusus dan guru pendamping.
Dalam satu kelas sebaiknya tidak lebih dari 2 (dua) anak autistik.
Dan lain-lain yang dianggap perlu.

3. Pragram Pendidikan Terpadu
Program Pendidikan Terpadu dilaksanakan disekolah reguler. Dalam kasus/waktu tertentu, anak-anak autistik dilayani di kelas khusus untuk remedial atau layanan lain yang diperlukan. Keberadaan anak autistik di kelas khusus bisa sebagian waktu atau sepanjang hari tergantung kemampuan anak.

4. Sekolah Khusus Autis
Sekolah ini diperuntukkan khusus bagi anak autistik terutama yang tidak memungkinkan dapat mengikuti pendidikan di sekolah reguler. Anak di sekolah ini sangat sulit untuk dapat berkonsentrasi dengan adanya distraksi sekeliling mereka. Pendidikan di sekolah difokuskan pada program fungsional seperti bina diri, bakat, dan minat yang sesuai dengan potensi mereka.

5. Program Sekolah di Rumah
Program ini diperuntukkan bagi anak autistik yang tidak mampu mengikuti pendidikan di sekolah khusus karena keterbatasannya. Anak-anak autistik yang non verbal, retardasi mental atau mengalami gangguan serius motorik dan auditorinya dapat mengikuti program sekolah di rumah. Program dilaksanakan di rumah dengan mendatangkan guru pembimbing atau terapis atas kerjasama sekolah, orangtua dan masyarakat.

6. Panti (griya) Rehabilitasi Autis.
Anak autistik yang kemampuannya sangat rendah, gangguannya sangat parah dapat mengikuti program di panti (griya) rehabilitasi autistik. Program dipanti rehabilitasi lebih terfokus pada pengembangan:(1) Pengenalan diri(2) Sensori motor dan persepsi(3) Motorik kasar dan halus(4) Kemampuan berbahasa dan komunikasi(5) Bina diri, kemampuan sosial(6) Ketrampilan kerja terbatas sesuai minat, bakat dan potensinya.
Dari beberapa model layanan pendidikan di atas yang sudah eksis di lapangan adalah Kelas transisi, sekolah khusus autistik dan panti rehabilitasi.


www.ditplb.or.id 

Kamis, 15 November 2012

ANAK BERBAKAT NAMUN MEMILIKI MASALAH BERBICARA ?

Satu hal yang menarik diutarakan oleh seorang Mommy yang mempunyai anak yang bermasalah dengan kemampuan berbicaranya, namun setelah ditelusuri ternyata sang anak tercinta memiliki intelejensia yang sangat tinggi. Menurut sang Mommy, sampai saat ini kajiannya belum ada, jadi anak- anak late talker yang ternyata kelaknya diperkirakan akan berkembang dan bicara tanpa bantuan terapi namun ternyata mengalami learning disabilities, tidak terlacak sejak awal. Banyak kasus saat ini, anak ternyata sudah cerewet tetapi jika diajak bicara sulit menjawab. Dalam pelajaran matematika baik, tetapi kesulitan dalam pelajaran bahasa. Dalam pelajaran dengan menggunakan analisis baik, tetapi sulit dalam pelajaran menghapal.
Kajian untuk kelompok anak seperti ini di Indonesia belum ada. Tapi kelompok pemerhatinya sudah banyak. Indonesia agak ketinggalan memang, sayang sekali. Padahal kelompok anak yang late
talker, semuanya oke termasuk inteligensianya, namun tetap termasuk juga sebagai kelompok anak berresiko. Resikonya (tergantung dari perkembangannya) adalah kelak akan mengalami learning
disabilities (gangguan belajar) perkembangan sosial khusus (lebih introvert), atau kesulitan lainnya selama di sekolah, kerja tim, dan bermain.
Keterlambatan bicara dengan inteligensia normal sampai tinggi, bisa ditelusuri dalam bahasan Centrum Auditory Processing Disorder (CAPD) bagian dari otologi-neurologi, ataupun THT. Di berbagai Universitas di Indonesia belum ada yang sanggup melakukan deteksinya. Karena CAPD ini juga mempunyai spektrum mulai dari ringan sampai berat. Tetapi penelitiannya di berbagai negara sudah mulai banyak, bahkan beberapa negara sudah punya pusat kajiannya. Bagaimana terapi dan stimulasinya juga sudah mulai banyak dibicarakan. Mailing listnya juga sudah mulai banyak.
Mommy dengan anak berbakat ini menyampaikan, bahwa anak tercintanya. sampai umur satu setengah tahun bisa berbicara banyak, bisa berhitung, bisa bernyanyi macam-macam… namun lama-lama bukannya malah berkembang tapi malah mundur, baru berbicara lagi mulai umur 3 dan baru bisa berkomunikasi dua arah umur 5 tahun. Pernah mengikuti speech terapi mulai umur 5,5 selama dua tahun. Sekalipun bisa komunikasi tapi toh ada gangguan dalam kemampuan ekspresi verbalnya.
Di dalam kelompok seperti anak berbakat ini banyak yang harus menerima speech terapy, dan mengalami gangguan belajar yang disebabkan karena kemampuan pengertian bacaan tidak memadai.Meskipun mempunyai inteligensia normal sampai tinggi, tetapi mengalami kelainan perkembangan komunikasi (communication development disorder) . Penyebabnya bukan karena kurang stimulasi lingkungan, bukan karena pendengaran terganggu, bukan karena oral motornya terganggu, tetapi gangguan proses informasi di bagian otak yang mengatur pengolahan informasi dan bentuk gangguan komunikasi ekspresif.
Berbicara dalam Kongres autisme yang diadakan oleh IDAI/IDAJI/PERDOSI dua tahun lalu , sang Mommy melakukan pertemuan- pertemuan dengan para orang tua late talker. Ada 4 (empat) anak anak
yang semula mulai bicara tetapi ternyata perkembangannya tidak ada. Mereka didiagnosa dengan autisme. Ternyata waktu di atas umur 5 tahun mereka keluar dari kriteria autisme, tetapi tetap tidak bisa bicara. Mereka dinyatakan Afasia (tidak bisa bicara) dan kemampuan bicaranya sulit sekali, kosa kata tidak berkembang, cenderung jika dalam bahasa Indonesianya dikategorikan sebagai gagu.
Karena perkembangan seorang anak sulit kita ramal kedepannya. Saran dari Mommy ini adalah untuk selalu siap memperhatikan, siap mendukung dan menstimulasi diri anak agar perkembangannya tidak melenceng jauh. Ada anak yang mempunyai perkembangan diri yang lambat, ada yang normal, ada justru sangat cepat. Ada yang simultan secara harmonis berkembang secara bersamaan, ada yang
satu aspek perkembangan maju cepat tetapi aspek lain tertinggal.

Senin, 12 November 2012

Tanda Anak Terlambat Bicara

Kompas.com - Kemampuan bicara anak memang berbeda-beda, tetapi sebagian besar tak meleset jauh dari jangka waktu normal perkembangan usia anak.

Bila Anda mencurigai adanya keterlambatan bicara pada si kecil, misalnya melewati beberapa minggu atau bulan dari jangka waktu, konsultasikan kepada dokter. Mungkin itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan, tetapi mengenali dan melakukan intervensi sedini mungkin bermanfaat besar untuk perkembangan kemampuannya di masa datang.

Anda perlu was-was jika di usia ini anak belum memiliki kemampuan:

Usia 12-18 bulan

- Di usia 12 bulan anak belum menggunakan bahasa tubuh seperti melambai atau menggelengkan kepala.

- Di usia 12 bulan anak belum memakai kata-kata konsonan seperti p atau b.

- Di usia 15 bulan ia tidak mengerti dan merespon kata sederhana seperti "tidak".

- Di usia 15 bulan anak belum mengerti sedikitnya satu atau tiga kata.

- Di usia 15 bulan anak belum mengucap kata "mama" atau "papa".

- Di usia 18 bulan anak belum bisa mengucapkan sedikitnya 15 kata.

Usia 19-24 bulan

- Di usia 19 bulan ia belum menunjuk hal yang menarik perhatian, seperti burung atau pesawat di langit.

- Di usia 20 bulan ia belum mampu membuat sedikitnya 6 suara konsonan.

- Di usia 21 bulan ia tidak merespon petunjuk sederhana atau bermain pura-pura dengan boneka atau mobilannya (misalnya menyisir rambut boneka).

- Di usia 24 bulan ia tidak bisa mengenali nama-nama gambar di buku atau tidak tahu fungsi benda di sekitar rumah seperti sikat gigi, telepon, atau sendok.

- Di usia 24 bulan ia belum bisa menggabungkan dua kata dan orangtua tidak memahami apa yang diucapkannya.

Usia 2 - 3 tahun

Di usia ini waspadai jika anak belum bisa menggunakan dua kalimat sederhana, tidak dapat menamai sedikitnya tiga bagian tubuh, tidak pernah bertanya, kesulitan mengikuti bagian lagu sederhana, serta tidak mampu membedakan perintah sederhana. Waspadai juga jika di atas usia 3 tahun orangtua masih belum memahami ucapan anak.

Paradoxical Vocal Fold Movement (2)

Kebetulan, akhir tahun lalu, Saya berkesempatan menangani klien dengan kelainan tersebut. Dari hasil diskusi dengan senior-rockstar yang mumpuni pengalaman menangani kasus-kasus suara, Saya dibimbing untuk menangani kasus tersebut. Akhirnya, kesimpulan Saya mengenai penangan kasus tersebut antara lain: (1) klien mampu melakukan pertolongan pertama pada dirinya sendiri pada saat terjadi serangan kesulitan bernafas/rasa tercekik di leher. Untuk bisa melakukan hal ini, klien memerlukan bimbingan “pada gerakan apa gerakan adduksi pita suara terjadi paling maksimal”. Untuk melakukan hal ini memang cukup menantang, mengingat keterbatasan peralatan yang bisa menunjang penilaian objektif pada saat melakukan proses eksplorasi gerakan adduksi pita suara. (2) klien bisa memahami bahwa kondisi ini disebabkan oleh tingginya kadar asam lambung, sehingga masih diperlukan treatment secara medis untuk menangani gangguan pencernaannya. (3) Tentu saja, pemulihan suaranya, dan ini berkaitan langsung dengan keterampilan (Saya) sebagai Terapis Wicara.
Seperti apa yang dikatakan (almarhum) dosen-rockstar Saya, bahwa metode paling ampuh untuk menangani hampir seluruh kasus suara adalah metode pushing-approach yang sangat populer di kalangan terapis wicara itu, maka yang Saya berikan adalah metode yang sama dengan berbagai penyesuaian (Imagery Pushing Approach). Dan sebelumnya sudah dilakukan teknik-teknik lain untuk menunjang keberhasilan terapi suaranya.

Paradoxical Vocal Fold Movement

Paradoxical Vocal Fold Movement

Sebuah kondisi dimana gerakan pita suara terjadi sebaliknya. Contoh; saat kita menarik nafas seharusnya pita suara terbuka, tetapi yang terjadi pita suara menutup, sehingga ciri kondisi ini adalah adanya rasa tercekik pada saat menarik nafas.
Umumnya, kondisi ini terjadi pada individu yang gemar berolahraga. Terutama karena kebiasaan mengonsumsi jenis makanan tertentu yang membuat tubuh cepat melakukan metabolisme tanpa memperhatikan jenis makanan yang dikonsumsi. Kebiasaan ini lama-kelamaan akan memicu kadar asam lambung semakin tinggi, dan inilah penyebab dari terjadinya paradoxical vocal fold movement… Soo, buat yang hobi olahraga, sebaiknya tetap memperhatikan asupan gizi yang juga aman buat kesehatan pencernaannya…

SENSORY INFLUENCES AND THEIR MANAGEMENT Part 1


Kemampuan sensori memainkan peran yang sangat penting dalam proses perkembangan makan dan minum. Perhatian khusus diperlukan sebelum pemberian terapi intra-oral agar bisa mengurangi asosiasi-negatif yang mungkin dimunculkan oleh anak. Dimana ide-ide terapi pemberian makan harus praktis dan sesuai dengan kebiasaan keseharian keluarga.


Oral Sensory Development
Adalah hal mendasar untuk melihat pengaruh dari perkembangan sensori di dalam dan di sekitar mulut pada kemampuan oral-motor.  Bayi baru lahir mengenali kehidupan di luar rahim ibunya melalui mulut. Ia menggunakan kemampuan non-nutritive sucking untuk mengatur, menenangkan  dan mengorganisasi tubuhnya. Pemenuhan kebutuhan nutrisi, menjaga suhu tubuh agar tetap hangat dan pemenuhan akan kebutuhan rasa aman, didapatkan bayi melalui proses pemberian makan. Pada usia sekitar 4 bulan, bayi mengembangkan “nafsu makan” yang berlebihan untuk memenuhi kebutuhan stimulasi pada mulutnya. Ia menggunakan tangan, kaki, makanan, baju dan mainan ke mulutnya untuk melakukan eksplorasi dengan ketertarikan yang tinggi. Gigi pada umumnya erupsi pada usia 6 bulan, dan hal ini mengakibatkan kemampuan feedback sensori lebih lanjut/berkembang juga menimbulkan keinginan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman atau sakit yang ditimbulkan dari proses erupsi gigi. Ketika keseimbangan duduk bayi sudah lebih baik ia menjadi mampu menggerakkan tangannya dengan gerakan yang lebih presisi saat melakukan eksplorasi objek; pada saat ini bayi mengalami perkembangan dari “generalized mouthing” menjadi “discriminative mouthing”  (Morris & Dunn Klein, 2000).

Sensory Processing
Kemampuan sensasi bisa dipengaruhi oleh kerusakan pusat sensori di korteks otak atau sebagai hasil dari abnormalitas tonus otot dan abnormalitas pergerakan yang mengakibatkan terganggunya feedback sensori dan feedforward sensori.
Banyak sekali anak yang mengalami EDD (Eating and Drinking Difficulties) menunjukkan gejala gangguan sensori pada mulutnya; bisa masalah motorik, sensorik atau motorik-sensorik. Derajat gangguan bisa sangat spesifik masalah sensorik hanya pada area mulutnya saja atau gangguan proses sensori yang lebih luas lagi.

The term ‘sensory integration’ describes the brain’s ability to interpret and organize information from the senses on an automatic level for use in a goal directed activity (Ayres, 1979).
1.       Vestibular sensory information (balance and equilibrium)
System vestibular menerima informasi yang berhubungan dengan gaya gravitasi tubuh pada pusat titik berat tubuh (CoG = Central of Gravity). System ini memberitahu kita kapan dan kemana arah tubuh ini akan jatuh atau bergerak, seberapa cepat gerakan yang dihasilkan, bagaimana ritme gerakannya, apa gerakan berikutnya dan kapan harus berhenti. Dan ini memungkinkan kita untuk mengembangkan a sense of place in space.

2.       Proprioceptive sensory information (inner muscle and joint awareness)
Proprioseptik menggambarkan penggunaan informasi dari otot dan sendi untuk meningkatkan pengetahuan kita tentang posisi tubuh dan pergerakan setiap bagian tubuh (Levitt, 1995). Juga termasuk kemampuan untuk mendeteksi sensasi kental/encernya cairan di dalam mulut, atau berat/ringannya sebuah benda. Menjaga posisi tubuh tetap berdiri atau berbaring juga melibatkan kemampuan proprioseptik. Salah satu indikasi disfungsi proses proprioseptif adalah rigiditas postur tubuh, teeth grinding, dan sering jatuh karena anak tidak mampu menjaga postur tubuhnya (Barnes, 2001).

3.       Tactile sensory information (touch)
Sentuhan termasuk didalamnya merasakan suhu, tekstur, sakit, getaran dan tekanan. Kemampuan membedakan air dingin, hangat dan air panas, atau kain yang kasar dengan kain Kashmir, makanan lunak dengan krispi, dst. Air dingin membantu kita untuk alert, dan coklat hangat membantu kita untuk calming.
Kemampuan taktil meliputi informasi dan proteksi. Aspek informasi sentuhan berfungsi untuk eksplorasi dan pembelajaran. Reaksi proteksi membuat seseorang memutuskan untuk menyerang atau bertahan. Seorang anak mungkin menunjukkan perilaku negative dalam upaya untuk antisipasi terhadap stimulasi yang tidak menyenangkan baginya.

4.       Gustatory sensory information (taste)
Kemampuan rasa (taste) kita menerima dan menerjemahkan rasa manis, asam, pahit dan asin. Dalam perkembangan yang normal, pahit termasuk rasa yang sulit diterima (Harris, 2000). Adalah penting untuk mengeksplorasi dampak rasa pada anak yang mempunyai EDD sehingga bisa digunakan sebagai acuan pada proses terapi.

5.       Olfactory sensory information (smell)
Smell (kemampuan menghidu bau/aroma) merupakan aspek yang penting untuk meningkatkan pengalaman merasakan ke-empat rasa dasar. Kemampuan untuk merasakan (taste) akan sangat berkurang ketika hidung tersumbat akibat flu. Smell merupakan kemampuan sensasi primitif. Yang sangat berpengaruh dan bisa secara cepat membangkitkan pengalaman masa lalu, baik negatif maupun positif. Sangat penting bagi keluarga atau lingkungan untuk mengetahui respon anak terhadap bau yang spesifik agar tidak menimbulkan reaksi yang tidak diharapkan.

6.       Visual sensory information (sight)
Warna dan bentuk bisa menarik perhatian. Dan ini bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan ketertarikan pada makanan, perkakas, dll. Beberapa warna, bentuk dan pola bisa meningkatkan kewaspadaan, seperti pola zigzag berwarna-warni, dimana yang lainnya, seperti pola ombak biru yang lembut bisa menenangkan.

PENDIDIKAN TERAPI WICARA

Terapi Wicara

Dikarenakan beberapa tahun terakhir ini populasi klien yang membutuhkan pelayanan Terapi Wicara seperti : stroke, trauma kepala, anak dengan kebutuhan khusus yang mengalami gangguan bicara atau keterlambatan bicara, seperti ADHD, Autisme, Cerebral Palsy, dll, mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Jumlah Terapis Wicara yang ada di Indonesia saat ini tidak mencukupi bila dibandingkan banyaknya jumlah kasus yang harus ditangani. Jumlah Terapis Wicara yang ada saat ini di Indonesia berjumlah 353 terapis membuktikan bahwa profesi ini masih langka, mengingat rasio terapis wicara dan penduduk Indonesia adalah 1:623.500. Dengan demikian peluang bekerja baik di sektor negeri atau swasta sangat besar. Menyikapi kondisi diatas pada tahun 2006, Politeknik Kesehatan Surakarta dibawah Kementrian Kesehatan R.I membuka program studi baru, yaitu Program D III Terapi Wicara, yang dikelola oleh Jurusan Okupasi Terapi Poltekkes Surakarta.

Pada tahun 2008 Program studi DIII Terapi Wicara resmi menjadi Jurusan Terapi Wicara Poltekkes Kemenkes Surakarta dan menempati gedung baru di Jalan Letjend Sutoyo Mojosongo Surakarta menjadi satu lokasi dengan Direktorat, Jurusan Keperawatan dan Jurusan Akupunktur.
Pelayanan terapi wicara merupakan tindakan yang diperuntukkan bagi individu yang mengalami gangguan komunikasi termasuk didalamnya adalah gangguan berbahasa bicara dan gangguan menelan. Pelayanan terapi wicara ini dilakukan oleh profesional yang telah memiliki keahlian khusus dan diakui secara nasional serta telah mendapatkan ijin praktek dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Profesi terapi wicara disebut sebagai Terapis Wicara (Speech Therapist). Pelayanan Terapi Wicara meliputi:
  • Asesmen atau pemeriksaan
  • Pembuatan program terapi
  • Pelaksanaan program terapi
  • Evaluasi program terapi
  • Evaluasi Gabungan (dengan profesi lain)
  • Rujukan ke ahli lain (jika perlu)
Terdapat 5 ( lima ) aspek yang menjadi bidang terapis wicara, yaitu: gangguan artikulasi, gangguan berbahasa, gangguan bersuara, gangguan irama kelancaran, serta gangguan menelan. Program D III Terapi Wicara didukung oleh tenaga pengajar lulusan dalam dan luar negeri, klinisi terapis wicara yang berpengalaman didalam bidangnya serta tenaga pengajar dari profesi lain yang berkaitan dengan bidang terapi wicara.
Terapis wicara dapat bekerja di rumah sakit negeri maupun swasta, klinik stroke, klinik anak dengan kebutuhan khusus, institusi pendidikan/sekolah, institusi rehabilitasi, dan praktek pribadi. Gelar yang diperoleh setelah menyelesaikan program pendidikan ini adalah Ahli Madya Terapi Wicara (Amd.TW).
Pengelola Program Studi D III Terapi Wicara
Ketua Jurusan : Bambang Kuncoro, M.OT
Sekjur            : R. Asto Soeyasmoro, Amd

Fasilitas
Untuk mendukung proses belajar mengajar dan  kegiatan lainnya serta menciptakan lulusan yang siap pakai, selain sarana dan prasarana standar seperti ruang kelas Full AC, ruang dosen, administrasi dan ruang rapat, dll; Jurusan Terapi Wicara menyediakan fasilitas-fasilitas antara lain sbb:
  • Laboratorium Terapi Wicara
  • Laboratorium Pemeriksaan Pendengaran
  • Laboratorium Latihan Bicara
  • Alat Bantu Dengar
  • Fasilitas Olah Raga dan Ibadah

PELAYANAN TERAPI WICARA MEDAN

Layanan Terapis wicara adalah bentuk layanan yang bertujuan untuk memulihkan dan mengupayakan kompensasi/adaptasi fungsi komunikasi, bicara dan menelan dengan melalui pelatihan remediasi, stimulasi dan fasilitasi (fisik, elektroterapi dan mekanis). Sarana elektroterapi yang ada antara lain vital stim untuk melatih otot2 menelan, misalnya pada pasien pasca stroke.   

Untuk di medan sendiri terdapat beberapa tempat untuk pelayanan terapi wicara diantaranya:
1. RSU ESTOMIHI MEDAN
2. RSU Adam Malik
3. RSU Pringadi

Untuk yang melayani ada bebearapa orang terapis.
1. Rismawati Simanjuntak HP : 081396490725
2. Jalu Tambunan
3. Diana


Selasa, 06 November 2012

PELAYANAN TERAPI WICARA






1.       Apa Itu Pelayanan Terapi Wicara
Ø Pelayanan Terapi Wicara, adalah pelayanan kesehatan professional berdasarkan ilmu pengetahuan, teknologi dalam bidang perilaku komunikasi untuk meningkatkan dan memulihkan kemampuan perilaku komunikasi, yang berhubungan dengan kemampuan-kemampuan, bahasa, wicara, suara, dan irama/kelancaran, yang diakibatkan oleh adanya ganguan gangguan/kelainan anotomosis, fisiologi, psikologis, dan sosiologis.
2.      Tugas Pokok Terapis Wicara
Ø Tugas pokok Terapis Wicara, adalah melaksanakan pelayanan terapi wicara demi tercapainya kemampuan komunikasi yang optimal, baik dalam aspek bahasa, wicara, suara, irama kelancaran hingga mampu berkomunikasi secara wajar dan tidak mengalami gangguan gangguan psikososial dalam menjalankan fungsinya sebagai individu, maupun sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.
3.      Ruang Lingkup Pelayanan Terapi Wicara
a.      Ruang lingkup pelayanan terapi wicara dilihat dari sifat pelayanannya meliputi
Ø  Promotif
Ø  Preventif
Ø  Kuratif
Ø  Rehbilitatif
b.      Aspek komunikasi dan menelan meliputi
Ø  Aspek wicara
Ø  Aspek bahasa
Ø  Aspek suara
Ø  Aspek irama dan kelancaran
Ø  Aspek menghisap, mengunyah, dan menelan
c.       Dilihat dari institusi kerja yang Menggunakan tenaga terapi wicara:
·         Rumah Sakit
·         Klinik-Klinik
·         Sekolah luar biasa/khusus
·         Sekolah Dasar
4.      Bagaimana Cara Kerja Terapis Wicara?
a.      Pemeriksaan dan Penilaian
Ø  Penilaian perkembangan kemampuan bahasa bicara
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan bahasa.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian anatomi dan fisiologi organ bicara dan pendengaran.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan respirasi untuk kebutuhan bicara.
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan artikulasi
Ø  Pemeriksaan dan penilaian irama kelancaran
Ø  Pemeriksaan dan penilaian kemampuan menghisap, mengunyah, dan menelan.
b.      Penetapan diagnosis terapi wicara dan prognosis, istilah diagnosa dalam terapi wicara.
·         Afasia
·         Disglosia
·         Disartria
·         Dislalia
·         Disaudia
·         Disfonia
·         Dislogia
·         Gagap
c.       Penyusunan program/rencana
d.      Terapi tindakan
Menggunakan metode yang sesuai dengan waktu terapi berkisar 30-60 menit
e.      Evaluasi
Anda membutuhkan pelayanan Terapi Wicara hubungi kami







Selasa, 01 November 2011

Alat-Alat Terapi Wicara


DAFTAR ALAT TERAPI WICARA
No
Barang
Harga
1.
Kartu Suku Kata
 Unknown
2.
Gambar Warna-warna
 Unknown
3.
Lawan Kata
 Unknown
4.
Johnson’s baby oil
 Unknown
5.
Gambar buah/huruf
 Unknown
6.
Kelereng & botol aqua 100 biji
 Unknown
7.
Super buble
 Unknown
8.
Tang Spatel
 Unknown
9.
Potong Buah
 Unknown
10.
Tisyu
 Unknown
11.
Alkohol
Unknown
12.
Sikat gigi oral motor (untuk pasien stroke&anak)
 Unknown
13.
Brushing/Sikat Brushing
 Unknown
14.
Kursi & Meja
 Unknown
15.
Kaca
 Unknown
16.
Almari tempat alat terapi
 Unknown
17.
Lilin & Korek Api
 Unknown
18.
Antiseptic pembersih tangan
 Unknown
By : Rismawati Simanjuntak, Amd.Tw